//
you're reading...
Liputan Khusus

Gerakan Syahwat Mereka mengepung Indonesia

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat. Langkahnya acuh saja. Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati penyair ,Taufiq Ismail yang tengah dirubung banyak orang. Setelah sampai di dekat Taufiq, ia menyalaminya…

”Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media massa Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. Bayangkan kalau di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi, di sini malah diputar pada prime time,” kata si bule sembari memegang tangan Taufiq. Yang disalaminya pun membalas dengan senyum simpul.
”Terima kasih Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak mengambil contoh negara Anda,” jawab Taufiq.

Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello, direktur Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. ”Bayangkan, mereka saja resah atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. Tapi, kok kita tidak ya?” ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo ini.

Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan kalangan Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali menengok nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. Bahkan, Taufiq lugas menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai meruntuhkan bangunan bangsa.

Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. Indonesia dikepung gerakan ‘Syahwat Merdeka’! ”Gerakan syahwat merdeka ini tak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tapi, bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,” kata Taufiq dalam pidatonya.

Ketika mendengar ‘kesaksian’ Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang penuh dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang memuat pidato Taufiq Ismail.

Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. Seorang ibu berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa Biran, menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur tepekur di kursinya.

Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai terasa merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen ‘syahwat merdeka’ itu.

Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini. Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan televisi.

”Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap tayangan televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Fransisco, maupun Klaten,” tegasnya.

Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis yang asyik menulis wilayah ‘selangkangan dan sekitarnya’ mayoritas perempuan. ”Dalam hal ini ada kritikus Malaysia berkata, ‘Wah Pak Taufiq, pengarang Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu?” ungkap Taufiq Ismail.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar dipisahkan.

Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan dokter praktisi aborsi.

”Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas,” tandas Taufiq Ismail.

Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin dalam gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah pihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil perundangan perlindungan anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini dilindungi enam undang-undang.
Sastra ganjil
Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan, saat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa
tiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama saja dengan pornografi.

”Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi mendiang Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan karya sastra. Ramadhan, karena tidak ‘kuat’ membaca, meminta saya membaca novel tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar saja.” ”Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai mendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin tidak mengerti,” tutur NH Dini.

Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu memang kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya yang ‘tidak masuk akal’ karena hanya membahas soal selangkangan. Dominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas kehidupan rakyat yang berbudi diabaikan. ”Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh bila dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi penurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini mengepung kita,” tandas Al Azhar.[]

Muhammad Subarkah
*Artikel diambil dari Infoanda.

Note: Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia…

Iklan

Diskusi

3 thoughts on “Gerakan Syahwat Mereka mengepung Indonesia

  1. bagaimana cara untuk menurunkan situs porno kalau bisa meniadakannya???

    Posted by arief | Maret 2, 2010, 10:19 am
  2. belum lagi game2 online yg karakter2 wanitanya cenderung berpakaian minim, serba terbuka, padahal pemainnya adalah anak-anak. memang karakter itu hanya berbentuk gambar, namun secara langsung bisa menjadi ‘model’ bagi anak2 untuk ditiru.

    Posted by aryan | April 30, 2010, 4:55 pm
  3. Menjamurnya lokalisasi, warung remang-remang, hotel “short time” atau losmen “esek-esek”, salon plus plus, panti pijat plus, sauna plus, karaoke plus plus, atau diskotek dengan layanan khusus/VIP, setidaknya bisa dijadikan cermin perilaku (seks) masyarakat kita. Layaknya hukum dagang yang mengacu pada permintaan dan penawaran, demikian juga yang terjadi dalam layanan plus-plus. Tingginya jumlah pria hidung belang, maka menjamur pula wanita jalang pemburu uang.

    “Industri” seks pun merambah berbagai profesi: kapster, SPG, conter girl, sales marketing, hostes, caddy, bartender, waitress restoran, scoregirl, sekretaris, fotomodel, peragawati, artis, mahasiswi hingga siswi SMU, siap menjadi gadis-gadis order, yang siap “dibawa” para “kumbang”.

    Terjunnya mereka di dunia seks komersial umumnya dilatarbelakangi ekonomi, meski ada juga yang awalnya yang “terlanjur” karena pernah jadi korban “lelaki”. Bahkan, faktanya dalam hal melacurkan diri ini, kini bukan hanya persoalan perut, bukan soal “menafkahi” keluarga, namun sudah perkara memenuhi gaya hidup. Hedonisme menjadikan mereka memburu kesenangan belaka. Asal bisa gonta ganti hp dan kendaraan, membeli busana bermerek dan aksesori mahal, mereka rela mengorbankan kehormatan diri atau menjadi simpanan bos-bos dan om-om.

    Tuturan di atas baru sebatas “jual beli”. Yang melakukan seks atas dasar suka sama suka, sex just for fun, atau sekadar mencari kepuasan pribadi, tentunya lebih banyak. Remaja/wanita hamil di luar nikah ada di kanan kiri kita, perselingkuhan sudah sering kita dengar, video mesum juga sudah bukan berita heboh lagi. Masyarakat seakan sudah abai atau malah justru permisif. Jika dahulu orang tua seperti dicoreng aibnya ketika anak perempuannya hamil di luar nikah, sekarang banyak orang tua yang justru bersikap biasa saja, bahkan cuek.

    Pacaran zaman sekarang juga jauh lebih “canggih”, karena remaja sekarang lebih paham tentang hal-hal yang terkait reproduksi, bahkan paham bagaimana menghindari cara dan waktu berhubungan seks yang berpotensi kehamilan.

    Tak berhenti hingga di sini. Seks bebas juga berkembang menjadi perilaku seks menyimpang: pesta seks, arisan seks, private party, incest (hubungan seks sedarah), hingga homoseksual. Lebih ironis, komunitas “maho” (manusia homo) berkedok demokrasi seks malah melembaga di negeri ini, mewujud dalam organisasi GAYa NUSANTARA.

    Padahal, yang namanya kasus-kasus menyimpang soal seks seperti fenomena gunung es; di permukaan saja sudah memiriskan hati, apalagi yang tidak tampak. Perkembangan teknologi (TV, internet, HP, dsb) yang mengekspos budaya mempertontonkan aurat menjadi sarana “ampuh” dalam menimbun hasrat seksual para remaja. Alih-alih disalurkan pada tempatnya (baca: menikah), yang terjadi, kejahatan seksual seperti pemerkosaan dan sodomi, malah merebak di mana-mana.

    Sistem pendidikan yang menempatkan agama sebagai suplemen, menjadikan anak bangsa ini miskin ilmu dan iman. Hal ini juga didukung dengan lemahnya pengawasan orang tua dan minimnya amar ma’ruf nahi mungkar.

    Ironi memang sedemikian bebasnya seks bebas di negeri yang mayoritas muslim ini. Bagi orang tua yang membiarkan putrinya bebas bergaul dengan laki-laki, bagi “ustadz-ustadz cinta” yang menghalalkan pacaran, bagi “dai-dai gaul” yang diam seribu bahasa dengan maraknya perzinaan di negeri ini, sadarlah, seks bebas mengepung kita!

    (Silahkan lihat pengantar redaksi majalah Asy Syariah)1.

    Komentar:

    Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah, kemudian membentengi diri dan keluarga kita dari perbuatan keji dan mungkar. Ya Allah jauhkanlah kami dan keluarga kami dari perbuatan keji dan mungkar, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

    Posted by Gerizal | Januari 22, 2012, 2:34 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Website taiphimsexy.com cung cấp các phim sex y nhiều thể loại, các phim mới cập nhật dành cho điện thoại. Các bạn có thể tai phim sex y về điện thoại một cách dễ dàng nhất để xem và chia sẽ cho bạn bè. Chúng tôi cung cấp mọi định dạng phim sex y cho điện thoại yếu như 3gp đến mp4, wmv cho những điện thoại có hỗ trợ để nhằm phục vụ tốt cho nhu cầu xem phim sex y của bạn. Phim sex y nhiều thể loại, bạn còn có thể xem phim sex y online trên điện thoại mà không cần tải về. Chúc các bạn tìm được những gì mình cần tại taiphimsexy.com và tai phim sex y về điện thoại thành công nhé các bạn. Lưu ý: để xem phim sex y online hoặc tai phim sex y một cách tốt nhất, bạn nên sữ dụng máy điện thoại để truy cập trực tiếp vào website để được hỗ trợ đầy đủ dịch vụ của chúng tôi. Khi có vấn đề như tải phim thất bại, xem phim không thành công, chúng tôi sẽ tự động tải một file về điện thoại các bạn để xem tại điện thoại không cần truy cập vào website. tai phim sex
%d blogger menyukai ini: