Cerita Pilu dari Banten
April 27, 2008 pada 8:07 am (Kriminal)
Tags: polisi, mati, otopsi, manusia, tentara, cerita, tua, jahat, desa, pembunuh, cilegon, banten, pilu, warga, keluarga, fitri, sastra, sahabat, bandar, lampung, bandar lampung, tega, bunuh, membunuh, sedih, orang tua, novita
Liputan6.com, Cilegon: Sejumlah personel Kepolisian Resor Cilegon, belum lama berselang, mendatangi rumah pasangan Satra’i dan Jahriyah di Desa Cikerai, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cilegon, Provinsi Banten. Ini dilakukan setelah polisi menerima laporan dari seorang warga yang menyebutkan keluarga ini sudah beberapa hari tidak keluar rumah.

Liputan6 Aktual Tajam Terpercaya
Saat diselidiki polisi menemukan lapisan semen di belakang rumah. Lantaran dirasa aneh, polisi memutuskan untuk membongkarnya. Kecurigaan polisi ternyata terbukti. Di bawah lapisan semen terdapat sebuah drum berisi jasad Jahriyah dan Safitri, anak Satra’i yang baru berusia enam tahun. Sedangkan Satra’i sendiri malam itu tidak berada di rumah.
Polisi untuk sementara menyimpulkan Jahriyah dan Safitri adalah korban pembunuhan. Jasad keduanya segera dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Usai diotopsi kerabat membawa pulang jenazah ibu dan anak itu ke Desa Prigi, Pulo Ampel, Kabupaten Serang, tempat tinggal orangtua angkat Jahriyah. Malam itu juga jenazah keduanya langsung dimakamkan.
Penemuan jenazah Jahriyah dan Safitri dalam drum akhirnya mendorong kecurigaan kepada Satra’i. Setelah melakukan penyelidikan dan satu per satu keterangan dikumpulkan, sebuah informasi penting muncul dari Sadudin, sahabat Satra’i.
Menurut Sadudin, Satra’i datang menemuinya dengan kondisi seperti orang linglung dan ketakutan. Informasi Sadudin ini tentu sangat berarti bagi polisi. Satra’i pun menjadi orang yang paling dicari aparat Polres Cilegon. Sebuah petunjuk menyebut Satra’i melarikan diri ke kawasan Bandar Lampung melalui pelabuhan Merak. Tak lama kemudian Satrai berhasil ditangkap.
Satra’i tidak menolak tuduhan polisi bahwa dirinya telah membunuh istri dan anaknya. Saat itu juga polisi segera menetapkan Satra’i sebagai tersangka. Dia tega membunuh anak dan istrinya karena didorong rasa sakit hati. Bahkan amarah dan dendam telah hidup dalam dirinya selama setahun menikah dengan Jahriyah.
Mutia orangtua angkat Jahriyah mengaku kaget dengan kejadian yang menimpa korban. Dia jadi teringat masa-masa perjuangan Satra’i mendapatkan Jahriyah. Tak hanya orangtua, tetangga Jahriyah juga merasa kehilangan. “Sedih kalau mendengarnya,” kata Salmah, tetangga korban.(IAN/Indah Dian Novita dan Theopilus Sandy)
