Pohon Yang Tidak Kami Sukai

Beritamaya.wordpress.com - Di suatu tempat, ada sebuah pohon yang tidak kami sukai. Pohon itu seperti wanita telanjang yang sedang menari. Sebagian orang menyebutnya sebagai pohon yang indah.

Please, don’t plant it anywhere.(whisperingcraneinstitute)[beritamaya]
[sent via an e-mail, she's a real beauty!]

Kapal Tenggelam, Awak dan Nakhoda Selamat

Liputan6.com, Surabaya: Delapan anak buah kapal dan empat nakhoda kapal kargo Kartika Utama yang tenggelam di perairan selatan Pulau Bali berhasil diselamatkan, Senin (14/7). Kondisi kesehatan mereka relatif stabil setelah terapung-apung di tengah laut.

Awak Kapal Kartika Utama yang selamat.

Kapal yang mengangkut besi dan bahan kelontong ini tenggelam dihantam ombak besar dini hari kemarin. Rencananya kapal Kartika Utama bertolak dari Banyuwangi menuju Bima, Nusa Tenggara Timur. Ke-14 awak kapal ini diselamatkan kapal penumpang Saiko yang tengah berlayar menuju Pelabuhan Tanjungperak, Surabaya, Jawa Timur.

Berdasarkan data di Badan Meteorologi dan Geofisika Tanjungperak, ombak besar di perairan laut selatan Pulau Jawa dan Bali masih tetap akan berlangsung sampai 19 Juni. Kondisi ini terjadi akibat perbedaan suhu antara Benua Asia dan Australia.(IAN/Kodriansyah Sofyan)

”Merusak Pendidikan Agama”

Penyesatan pemikiran juga digencarkan melalui buku-buku pendidikan agama di perguruan tinggi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-239

Oleh: Adian Husaini

“Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Itulah judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah. Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, menyatakan, bahwa buku ini memiliki arti penting bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama. Azra mendefinisikan ‘Pendidikan Multukultural’ sebagai “pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.”

Buku ini penting untuk kita cermati, karena menyuguhkan satu wacana tentang Pendidikan Agama di Indonesia. Ajaibnya, buku ini bukan memberikan suatu pemahaman tentang Pendidikan Agama yang benar, tetapi justru menyuguhkan suatu pemahaman yang merusak aqidah Islam itu sendiri. Maka, seharusnya, seorang profesor kenamaan tidak sampai terjebak untuk memuji-muji buku seperti ini. Apalagi, si profesor juga dikenal sebagai pimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Mungkin Sang Profesor tidak membaca isinya dengan teliti, atau mungkin memang dia sendiri setuju dengan isi buku tersebut.

Sebenarnya, istilah yang digunakan, yakni ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”, itu sendiri sudah bermasalah. Istilah itu mengesankan, seolah-olah selama ini, umat Islam tidak mengembangkan pendidikan agama yang menghormati keragaman budaya masyarakat. Bahkan, seperti pernah kita bahas dalam sejumlah CAP, istilah dan makna ”multikulturalisme” itu sendiri – seperti dijelaskan oleh para pendukungnya — sudah sangat bermasalah.

Tetapi, kita sangat memahami, karena paham ini sedang menjadi proyek global – yang tentu saja ada kucuran dana yang sangat besar – maka wacana multikulturalisme terus dijejalkan kepada kaum Muslim Indonesia. Badan Litbang Departemen Agama telah meluncurkan program pembinaan dai-dai multikultural dan menyebarkan buku-buku tentang multikulturalisme. Para santri dan kyai di berbagai pesantren, khususnya di Jawa Barat, juga telah dijejali paham ini oleh agen liberal, seperti International Center for Islam and Pluralism (ICIP).

Berbagai seminar tentang multikulturalisme pun digelar, seolah-olah, inilah agenda penting yang harus ditelan umat Islam Indonesia saat ini. Seolah-olah, umat Islam selama ini tidak memahami keragaman budaya dan agama. Seolah-olah umat Islam selama ini tidak toleran dengan agama lain, dan sebagainya.

Kita pernah membahas apa makna ”Multikulturalisme” dalam pandangan Litbang Departemen Agama, yang merupakan hasil penelitian Litbang Depag tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da’i”. Dijelaskan, bahwa selain dapat menjadi faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi. Konflik antar-umat beragama dapat terjadi karena — salah satunya — disebabkan oleh adanya pemahaman keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif. Pemahaman ini dapat membentuk pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lain. Pribadi yang selalu merasa hanya agama dan alirannya saja yang paling benar sedangkan agama dan aliran lainnya adalah salah dan dianggap sesat.

Jadi, dalam wacana multikulturalisme, klaim kebenaran (truth claim) terhadap agamanya sendiri dipandang sebagai sesuatu yang menjadi sebab terjadinya konflik antar-umat beragama. Logika selanjutnya adalah, agar umat beragama menghilangkan klaim kebenaran terhadap agamanya sendiri. Umat beragama diajak untuk mengakui kebenaran semua agama. Minimal, jangan menyalahkan agama dan kepercayaan di luar agamanya.

Tentu saja kesimpulan semacam ini sangat keliru. Sebab, setiap orang yang beragama – jika masih berpegang pada keyakinan agamanya – pasti meyakini kebenaran agamanya sendiri. Jika dia meyakini kebenaran semua agama, maka dia sejatinya sudah tidak beragama. Kita ingat jargon populer kaum Pluralis Agama, yakni ”All paths lead to the same summit” (semua jalan akan menuju puncak yang sama). Maksudnya, agama apa pun sebenarnya menuju pada Tuhan yang sama. Tokoh pluralis lain menggambarkan agama-agama laksana jari-jari sebuah roda yang semua menuju pada poros yang sama. Poros itulah, menurut dia, adalah Tuhan.

Semangat humanisme sekular tanpa diskriminasi agama inilah yang juga ditekankan dalam buku ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Misinya adalah membangun persaudaraan universal tanpa membedakan lagi faktor agama, sebagaimana misi yang digelorakan oleh Free Masonry, Theosofie, dan sebagainya. Misalnya ditulis dalam buku ini:

”Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama… Pesan kesatuan ini secara tegas disinyalir al-Qur’an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa’) antara kami dan kami… Dengan demikian, kalimatun sawa’ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity).” (hal. 45-46).

Bagi yang memahami tafsir Al-Quran, pemaknaan terhadap QS 3:64 tentang kalimatun sawa’ semacam itu tentulah dan ngawur. Sebab, ayat itu sendiri sangat jelas maknanya, yakni perintah kepada Nabi Muhammad saw agar mengajak kaum Ahlul Kitab untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Disebutkan dalam ayat tersebut (yang artinya):

”Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuat upun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah.”

Jadi, QS 3:64 tersebut jelas-jelas seruan kepada tauhid, bukan kepada paham Multikulturalisme. Meskipun maknanya sudah begitu jelas, tapi para pendukung paham Multikulturalisme ini dengan sangat berani dan gegabah membuat makna sendiri. Karena menjadikan paham Multikulturalisme sebagai dasar keimanannya, maka Tauhid pun dimaknai secara keliru dan diselewengkan maknanya. Padahal, Tauhid jelas berlawanan dengan syirik. Musuh utama Tauhid adalah syirik. Karena itu, Allah sangat murka dengan tindakan syirik, dan disebut sebagai ”kezaliman yang besar” (zhulmun ’azhimun). Karena itu, di dalam Al-Quran disebutkan, bahwa Allah SWT sangat murka, karena dituduh mempunyai anak (QS 19:88-91).

Tetapi, dalam paham Multikulturalisme sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, justru keyakinan akan kebenaran agamanya sendiri dilarang:

”Klaim berlebihan tentang kebenaran absolut kelompok keagamaan sendiri, dan

klaim kesesatan kelompok-kelompok agama lain, bisa membangkitkan sentimen permusuhan antarumat beragama dan antarkelompok. Penganjur-penganjur agama yang mempunyai corak pemahaman teologi dogmatis semacam itu dapat dengan mudah membawa dan memicu konflik dan kekerasan pada level pengikut. Dan anehnya semua mengatasnamakan Tuhan.” (hal. 4 8)

Tidak sulit untuk menyimpulkan, bahwa sadar atau tidak, misi buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural ini memang jelas-jelas merusak aqidah Islam. Agar memiliki daya rusak yang tinggi, maka digunakanlah salah satu aspek strategis, yakni ”Pendidikan Agama”. Daya rusak itu tentu saja semakin tinggi dengan dukungan profesor kenamaan yang memiliki kekuasaan tinggi di Perguruan Tinggi dan organisasi cendekiawan Muslim.

Buku Pendidikan Agama jenis ini memang jelas-jelas menyebarkan ’paham syirik’ Pluralisme Agama. Sebab, buku ini membenarkan semua paham syirik yang dengan tegas telah dikecam dalam Al-Quran. Ditulis, misalnya: ”Jadi, semua agama adalah sebuah totalitas sosio-kultural yang merupakan jalan-jalan yang berbeda dalam mengalami dan hidup dalam relasi dengan Yang Ilahi. Yang menyebabkan perbedaan itu adalah bukan sesuatu yang mutlak sifatnya, namun hanya faktor-faktor partikular yang berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan.” (hal. 50).

Lebih jauh dijabarkan bahwa: ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural mengandaikan suatu pengajaran efektif (effective teaching) dan belajar aktif (active learning) dengan memperhatikan keragaman agama-agama siswa. Dalam hal ini, proses mengajar lebih menekankan pada bagaimana mengajarkan tentang agama (teaching about religion), bukan mengajarkan agama (teaching of religion), karena yang pertama melibatkan pendekatan kesejarahan (historical approach) dan pendekatan perbandingan (comparative approach), sedangkan yang kedua melibatkan indoktrinasi dogmatik pada siswa sehingga secara praktis ia tidak memberikan sarana yang memadai untuk menentukan palajaran/kuliah mana yang dapat diterima dan mana yang perlu ditolak.” (hal. 102).

Untuk menjalankan misi Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural tersebut, maka juga diperlukan guru-guru yang memiliki pemahaman yang sama. ”Guru penganut suatu agama yang meyakini hanya ada satu kebenaran dan satu keselamatan, tertutup kemungkinan untuk menerima validitas kepercayaan-kepercayaan alternatif dan gagal mengajarkan toleransi dan saling menghargai antar sesama penganut agama.” (hal. 103).

Jadi, jelaslah, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural memang berusaha menggerus keyakinan ekslusif tiap agama, khususnya aqidah umat Islam. Untuk itu, penulis buku yang sudah sangat populer keliberalannya ini memang tidak takut-takut untuk merusak tafsir Al-Quran, sebagaimana contoh terdahulu. Sejumlah ayat Al-Quran lainnya juga dia tafsirkan dengan semena-mena.

Misalnya, dengan seenak perutnya sendiri, ia mengubah makna ”taqwa” dalam QS 49:13. Kaum Muslim memahami bahwa makna ’taqwa’ adalah taat kepada perintah Allah dan menjauhi larang-larangan-Nya. Tapi, oleh penganut paham multikulturalisme, istilah ’taqwa’ diartikan sebagai ”yang paling dapat memahami dan menghargai perbedaan pendapat.” Buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural ini menerjemahkan ayat tersebut sebagai berikut:

”Hai manusia, sesungguhnya Kami jadikan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berkelompok-kelompok dan berbangsa-bangsa, agar kalian saling memahami dan saling menghargai. Sesungguhnya orang yang paling bermartabat di sisi Allah adalah mereka yang paling dapat memahami dan menghargai perbedaan di antara kamu.”  (hal. 49).

Sebagai kaum Muslim, kita diperintahkan untuk sangat berhati-hati dalam menafsirkan Al-Quran. Dalam acara ”Kolokium Nasional Pemikiran Islam” di Universitas Muhammadiyah Malang, 11-13 Februari 2008, tokoh Muhammadiyah Ustad Muammal Hamidy mengingatkan, bahwa para sahabat Rasulullah saw dan para ulama ahli tafsir senantiasa sangat berhati-hati menafsirkan Al-Quran.

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu’nya pernah menyatakan: “Bumi manakah yang akan menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Kitabullah?” Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang mengucapkan (sesuatu) tentang Al-Quran berdasarkan ra’yunya atau berdasarkan apa yang tidak dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i). Abu Ubaid pernah juga memperingatkan: “Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan tentang Allah.”

Mencermati isi buku ini tidaklah sulit bagi kita untuk menilai, bahwa buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural ini memang merusak aqidah Islam dan Tafsir Al-Quran. Namun, Professor sekaliber Azyumardi Azra justru memberikan pujiannya. Penulis buku ini, menurut sang Professor UIN Jakarta ini,”telah membuka pintu masa depan kajian pendidikan agama bercorak multikulturalisme di Indonesia”.

Jadi, pintu untuk merusak Pendidikan Agama di Indonesia sudah resmi dibuka! Lalu, apa tindakan kita? [Depok, 7 Juli 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Suara Rakyat Kecil Tentang Pemilu 2009

Gegap gempita Pemilu, baik Pemilu Legislatif maupun Pilpres, sudah diambang mata. Partai-partai politik yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat pun telah mulai berkampanye. Media massa, baik teve, cetak, maupun radio, berlomba-lomba memeritakan tingkah-polah partai-partai politik itu, termasuk tokoh-tokohnya, dan juga perselisihan yangterjadi di antara mereka.

Ajang demokrasi lima tahunan, selain pilkadal tentunya, memang mengharu-biru setiap perjalanan bangsa ini. Yang tadinya kawan bisa menjadi lawan, dan yang tadinya lawan pun bisa tetap menjadi musuh. Semua hal menjadi mungkin. Bahkan yang jelas-jelas berideologi al-haq pun ikhlas dan halal saja bergandeng tangan dengan barisan al-bathil demi meraih kursi kekuasaan. Segala cara ditempuh demi berkuasa. Alasan yang lazim dikemukakan adalah, jika sudah berkuasa maka yang bathil akan pelan-pelan diubah menjadi al-haq. Namun pada kenyataannya, sangat sulit mengubah kebathilan yang sudah karatan puluhan tahun. Salah-salah yang terjadi adalah ke balikannya.

Jika media-media lain mengutip tokoh-tokoh masyarakat, parpol, pejabat negara, dan lainnya, maka eramuslim ingin mengambil sisi lain yang tak kalah penting, bahkan sangat penting karena mereka inilah sesungguhnya stake holder negara dan bangsa ini, yakni suara rakyat bawah.

Bagaimana pandangan mereka soal Pemilu dan Pilpres 2009 mendatang? Inilah komentar mereka yang sama sekali tidak ada motif politis apa pun:

“Pemilu cuma buang-buang duit saja. Indonesia sudah berkali-kali pemilu, tapi kondisi rakyat tidak juga membaik. Rakyat makin susah, Sedangkan para pejabat di atas sana makin mewah hidupnya. Jika demikian buat apa pemilu? Kemarin-kemarin saya dan keluarga masih memilih, tapi untuk tahun depan kayaknya rakyat harus kian kritis dan pandai. Harus bertanya pada diri sendiri, bermanfaatkah ikut pemilu bagi dia dan keluarganya?” (Muhammad Ichsan, buruh pabrik di Cileungsi, Jawa Barat)

“Buat apa sih Pemilu? Dari dulu sampai sekarang nasib kita ya begini-begini saja. Tidak berubah. Tapi ya kalau nanti kampanye ada yang ngasih duit sama kita-kita, ya kita terima saja. Lumayan, zaman kan lagi susah. Tapi kalau untuk nyoblos, he he he, nanti saja deh. Mendingan tidur di rumah.” (Adjie, buruh pabrik di Cileungsi, Jawa Barat)

“Kata bapak-bapak yang di sana, pemilu itu kan bermanfaat bagi kehidupan berdemokrasi. Itu yang saya dengar. Tapi saya juga bingung, kok nasib rakyat kecil kayak kita-kita ini nggak juga membaik yah?” (Supartini, kasir swalayan kecil di Bantargebang)

“Kampanye itu enak, rame. Kita sering ikut, ada uangnya lagi. Lumayanlah. Tapi kalo untuk nyoblos, ya kita sih ikut aja. Mana yang terbaik menurut kitalah. Kalo gak nyoblos juga gak apa-apa. Itu kan hak, bukan kewajiban. Jadi terserah kita.” (Rachmat Murtadho, tukang ojek di Bojongkulur, Bogor)

“Pemilu..? Waduh, saya gak mikirin itu. Gak sempet. Untuk mikiran bisa makan besok, bayar uang sekolah anak saja sudah pusing tujuh keliling. Saya kan orang susah. Pemilu itu kan urusan orang-orang gede. Saya sih berharap rakyat bisa tambah baik kehidupannya, tidak seperti sekarang tambah susah…” (Warmi, ibu rumah tangga di Gunung Puteri, Bogor)

“Kita gak usahlah cerita muluk-muluk soal pemilu. Faktanya rakyat kecil kayak kita-kita ini makin susah. Yang berubah ya orang-orang parpol itu, yang tadinya banyak yang pengangguran sekarang punya kerjaan, kalo kepilih di DPR malah hidupnya jadi kaya raya, mana pensiunan di DPR itu seumur hidup lagi. Ini kan gak adil. Kerja cuma lima tahun, gak punya prestasi, tapi dapet pensiun gede seumur hidup. Saya yang sudah puluhan tahun mengabdi jadi guru, kalo nanti pensiun dapat pensiunannya kecil banget. Ini benar-benar gak adil. Saya malas ikut pemilu. Percuma!” (Sodikin, PNS guru sekolah dasar di Pondok Gede).

“Pemilu itu sangat bermanfaat. Bisa untuk mengubah nasib. Makanya sekarang banyak orang bikin partai, ini bisnis baru yang sangat menjanjikan. Jika berkuasa, atau mampu mendudukkan wakilnya di DPR, ya yang pertama harus dilakukan adalah balikin modal. Yang ikut pilkada juga begitu. Emang semuanya gratis? Kita sebagai rakyat harus kritislah, jangan mau dibohongi lagi. Itu saja.” (Muhammad Endang, tukang koran di Jatibening, Bekasi )

“Hari gini masih mikirin pemilu? Malas ah….” (Susiyanti, lulusan SMA yang mengaku sedang bingung, Pasar Rebo).

Nah, itulah suara rakyat kecil yang didapat. Bagaimana dengan kita? Terserah, karena ikut pemilu itu hak, bukan kewajiban.(rz)[Eramuslim]

Iran Akan Menyerang “32 Pangkalan AS” Jika Diserang

Iran ancam akan menyerang “32 pangkalan AS dan pusat Israel” jika negaranya diserang, kata seorang asisten pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei

Hidayatullah.com–Iran akan menyerang “32 pangkalan AS dan pusat Israel” jika negaranya diserang, kata seorang asisten pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei, seperti dikutip oleh kantor berita Fars Sabtu.

“Jika Amerika dan Israel menembakkan peluru atau rudal terhadap negara kami, pasukan bersenjata Iran akan menyerang pusat Israel dan 32 pangkalan AS di kawasan ini sebelum debu dari serangan mereka mengendap,” Mojtaba Zolnoor mengatakan sebagaimana dilaporkan AFP dari Fars.

Zolnoor adalah deputi wakil Khamanei untuk pasukan elit Garda Revolusi, pasukan yang menguasai persenjataan berat Iran, khususnya rudal jarak jauhnya yang daoat menyerang Isral dan pangkalan AS di Teluk.

AS dan sekutu penting regionalnya Israel tak pernah mengesampingkan serangan terhadap Iran karena upaya nuklirnya, yang Barat khawatirkan dapat ditujukan untuk membuat senjata nuklir.

Ada kekhawatiran serangan terhadap Iran sudah dekat, setelah Israel melakukan manuver di Yunani yang secara efektif adalah latihan bagi suatu kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Jurubicara pemerintah, Gholam Hossein Elham, Sabtu mengesamapingkan spekulasi bahwa Iran berisiko diserang oleh AS, dengan mengatakan bahwa serangan militer adalah sesuatu yang “tidak waras”.

Republik Islam itu telah berulangkali memperingatkan balasan yang menghancurkan pada setiap serangan terhadap wilayahnya.

Iran membantah tuduhan Barat dan bersikeras program nuklirnya dimaksudkan hanya untuk membangkitkan energi untuk penduduk yang bertambah yang cadangan bahan bakar fosilnya akhirnya akan habis.

Ketegangan karena konflik nuklir itu meningkat lagi dalam beberapa hari belakangan ini setelah Iran menguji coba tembakan serentak sejumlah rudal — termasuk satu yang negara itu katakan dapat membawa Israel dalam jarak (tembak) — dalam latihan perang yang telah memicu kekhawatiran internasional. [ant/www.hidayatullah.com]

Besok, Pemadaman Bergilir di Jakarta dan Tangerang

Liputan6.com, Jakarta: Perusahaan Listrik Negara mulai Senin (14/7) akan memadamkan listrik secara bergilir di wilayah Jakarta dan Tangerang. Pihak PLN mengimbau konsumen agar berhemat listrik supaya pemadaman dapat dihindari.

Sebelumnya, PLN menjadwalkan pemadaman listrik bergilir mulai dilakukan di Jakarta dan Tangerang mulai 11 sampai 17 Juli mendatang. Untuk hari pertama, pemadaman bakal dilakukan di kawasan Gambir, Kebayoran, Kramat Jati, serta Tangerang. Namun, pemadaman batal karena jumlah pemakaian listrik menurun [baca: Pemadaman Listrik Ternyata Tak Sesuai Jadwal ].(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Suka Berbuat Onar, Preman Dibunuh

Liputan6.com, Dairi: Karena sering membuat keributan dan mencuri di rumah warga, seorang preman dibunuh kepala dusunnya di Desa Bijjara, Pegagan Hilir, Dairi, Sumatra Utara, bersama empat warga lainnya, belum lama ini. Dua tersangka pembunuh Palmer Hutajalu sempat hendak melarikan diri ke Riau. Namun, Henri Sinurat dan Intan Lumbangaol berhasil diringkus petugas Kepolisian Resor Dairi.


Keduanya mengaku sebagai eksekutor yang menyebabkan tewasnya korban. Dari keterangan keduanya polisi menangkap tiga tersangka lainnya, termasuk Ngalu Sihotang, kepala dusun setempat.

Para tersangka mengaku sudah lama merencanakan untuk membunuh korban karena tak tahan dengan ulah Palmer yang sering membuat onar. Namun, tidak ada satu pun warga yang berani menghadapi kelakuan Palmer. Sejumlah barang bukti berupa parang, badik, dan pakaian berlumur darah milik korban turut disita petugas.(ADO/Yudhistira)

Guru SMAN 7 Semarang Tewas Gantung Diri

Metrotvnews.com, Semarang: Seorang guru Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Semarang, Jawa Tengah, tewas gantung diri. Jenazah Ngadiyo yang sudah 20 tahun mengajar itu ditemukan di toilet di ruang guru SMAN 7, Sabtu (12/7).

Ironisnya Ngadiyo saat bunuh diri masih mengenakan baju seragamnya. Diduga Ngadiyo meregang nyawa sejak Jumat malam. Pasalnya dia tidak pulang sejak Jumat. Disinyalir korban sengaja mengakhiri hidup lantaran tidak tahan dengan penyakit yang dideritanya.

Usai dievakuasi, jenazah kemudian dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Dokter Karyadi untuk diotopsi. Meski demikian sebelumnya polisi memastikan korban meninggal karena gantung diri.(**)

The Dark Knight, Kembalinya Batman

Liputan6.com, Los Angeles: Film terbaru Batman berjudul The Dark Knight dirilis mulai 16 Juli 2008. Film ini berkisah seputar Kenyamanan hidup warga Gotham City yang terusik kemunculan Joker. Bruce Wayne tak tinggal diam dan kembali beraksi dengan kostum kelelawarnya. Tapi Joker tak mudah dikalahkan.

Dalam film ini, sang jagoan terlibat cinta segitiga memperebutkan Rachel Dawes, Asisten Jaksa Gotham City sekaligus teman masa kecil Wayne. Aksi laga berkombinasi kisah cinta itu dipermanis tampilan kostum Batman dan Batmobile yang berbeda dari film-film sebelumnya. Mampukah reuni sutradara Christopher Nolan dan mantan pemeran Batman Christian Bale menggoda perhatian Anda?(YNI)

Warga AS Tolak Perang dengan Iran

Sekitar seratus orang aktivis anti-perang AS melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kongres negara bagian Minnesota. Mereka menyatakan menentang rancangan undang-undang tentang seruan agar angkatan laut AS melakukan blokade terhadap Iran. Para pengunjuk rasa itu khawatir, tindakan tersebut akan memicu perang antara AS dan Negara Republik Islam Iran.

“Saat ini ada indikasi bahwa pemerintah ingin memulai perang dengan Iran. Dan mereka sedang merancang alasan untuk memulai perang serta membentuk opini publik agar siap menghadapi perang itu, ” kata Omeid Mohsseini-juru bicara aksi unjuk rasa-warga negara AS keturunan Iran.

Ia melanjutkan, “Dengan resolusi-resolusi baru ini, mereka akan memblokade kapal-kapal Iran, perdagangan, semuanya. Dan hal itu bisa memicu perang.”

Para aktivis anti-perang itu mendesak Senator Amy Klobuchar dan Norm Coleman, serta anggota Kongres Jim Ramstad menarik dukungan atas draft undang-undang yang saat ini sedang ditunda pembahasannya di Kongres AS. Draft tersebut diajukan oleh anggota DPR dan Senat AS, berisi seruan agar pemerintah AS menerapkan sanksi yang lebih berat pada Iran.
Salah butir draft bernomer H. Res 362, berisi desakan agar Presiden AS memperketat inspeksi pada semua orang, kendaraan, kapal-kapal, pesawat, kereta dan kargo yang menuju atau dari Iran.

Dalam aksi damai yang dikordinir oleh organisasi perdamaian lokal serta organisasi Woman Against Military Madness, putera Keith Ellison-Muslim AS pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres-membacakan pernyataan dukungan dari ayahnya.

Sementara Mohssenini mengatakan, ia menentang konfrontasi AS dengan Iran baik sebagai orang Iran sekaligus warga negara Amerika. “Pertama, saya adalah orang Iran dan keluarga, sahabat serta kerabat saya masih tinggal di Iran dan saya sangat peduli dengan keselamatan mereka, ” tukas Mohsseini.

“Kedua, saya warga negara Amerika dan saya prihatin dengan kejahatan-kejahatan yang bisa dilakukan atas nama saya, seperti AS telah melakukannya di Irak, Afghanistan dan wilayah-wilayah lainnya, ” sambung Mohsseini.

Wakil dari para veteran perang dari Minneapolis, Andy Burman juga menentang perang dengan Iran. “Perang dengan Iran akan menjadi tragedi bagi rakyat AS dan bagi rakyat Iran. Perang itu juga akan memperburuk stabilitas perdamaian tidak hanya di Timur Tengah tapi juga seluruh dunia, ” kata Burman setelah memberikan orasinya.

Burman menuding Kongres dan pemerintahan Bush sedang berusaha membayar kekalahan mereka dalam perang di Irak, dengan mengobarkan perang lainnya dengan Iran.

Burman juga mengecam lembaga American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang ikut berperan dalam upaya mengobarkan perang dengan Iran. “Mereka (AIPAC) tidak mewakili keinginan kalangan Yahudi Amerika yang sangat menginginkan perdamaian, ” tukas Burman yang juga keturunan Yahudi. (ln/iol)[eramuslim]

« Tulisan sebelumnya