Politik.kompasiana.com – suka atau tidak suka itu adalah kenyataan yang sebenarnya, 100 persen lebih 1000 persen saya percaya media terutama televisi lebih spesifik metro tv dan tv one sangat tidak berimbang dalam melakukan pemberitaan, atas nama demokrasi sepertinya kalangan media mengambil istilah teman saya “congor tebal kuping bebal” atau arti lebih sopannya “hobi kritik tapi tidak tahan kritik.” atas dasar demokrasi, seolah media menjadi penguasa, media harusnya bisa menempatkan diri dalam posisi tengah, dan harusnya haram hukumnya “serong”. sehingga menimbulkan pertanyaan benarkah ada kode etik jurnalistik ?

untuk sedikit menguatkan pendapat saya, saya kutip pernyataan dubes Rusia kepada presiden SBY : yg menyatakan langsung ke Pak Presiden SBY. Dubes yg di negaranya mengenal Glasnost (reformasi ala Rusia) tersebut melihat pemberitaan media di Indonesia ini sudah terlalu terbuka bahkan kebablasan. Dan dubes ini juga heran berita buruk lebih mendominasi ketimbang berita bagus yg memberikan impresi tidak proporsional (seuai) dengan kenyataan. (mungkin maksud SBY kalau ada 10% keburukan yg diberitakan semestinya 10% porsi berita. Jadi kita semestinya dapat melihat apa adanya Indonesia di media itu sesuai dengan proporsianya). Kalau beritanya saja yg buruk-buruk seolah terkesan minder, bagaimana mau mengundang investor asing ? Tentunya dengan data statistik yang benar akan memberikan proporsi penanganan yg tepat.
Soal “isi” dari setiap pemberitaan media ini, saya tidak suka dengan berita fitnah !. Kalau berita kebenaran silahkan saja diungkapkan. Tapi kalau fitnah tentunya nanti proses hukum dan aturan yg akan menanganinya. (Ini tidak mudah, karena perangkat hukum juga perlu dibenahi, kan ?).
mungkin lamanya (lebih dari 3 dekade) di kurung dalam gembok kebebasan, dan setelah gembok itu di buka media seolah berjingkrak kegirangan boleh bicara apa saja, yang berani melawan media segera di sebarluaskan berita buruk, dan untuk menetralisir itu konglemerat hobi membeli media. ical adalah satu contohnya tidak tanggung-tanggung 2 TV dia akuisisi.
lihat saja kasus cicak-buaya, betapa gencarnya pembelaan terhadap KPK seolah POLISI itu ga ada bagus-bagusnya, dan saat itu susno adalah bajingan yang harus diisingkirkan dengan tuntutan PECAT susno, media berteriak untuk itu, hingga metro tv dan tv one, tiap hari terus mengonggong, akhirnya polisi menyerah, susno diturunkan, media menang mungkin di ruang redaksi dengan congkak berteriak, “dulu kalian injak dan bredel kami sekarang kami berhasil balas dendam” . ini adalah kemenangan mutlak pertama dari media terhadap polisi dan susno adalah korban.
sekarang susno adalah pahlawan dan media menempatkannya dalam simbol “hero” yang menentang kezaliman, susno yang sudah kadung merasa jadi pahlawan di atas kekuasaan media, berteriak dengan congkak “saya tidak takut mati karena saya benar” kata-katanya berpijak pada jabatan pahlawan yang disuarakan media. susno menjadi boneka dari media yang menempatkannya dalam status konyol, dulu dia di jadikan pecundang oleh media dan sekarang dijadikan pahlawan.
sekarang polisi emang ga ada benarnya di hadapan media, bahkan penangkapan teroris di aceh yang menewaskan para perwira polri “hanya” dianggap pengalihan isu century, picik sekali media, tapi ketika ada bom polisi kembali disalahkan, atau lihat saja proses penggrebekan Ibrohim yang dengan yakin media bersuara itu adalah Nordin, dan menyiarkannya bagai film. polisi menjadi tertuduh dianggap main film, tapi televisi tidak mau bertanggung jawab atas dosanya malah ikut menyalahkan polisi, televisi tidak mau disalahkan atas kesalahan analisis siapa sebenarnya teroris tersebut.
saya sama sekali tidak membela polisi, karena jujur saya benci polisi sejak di tilang gara-gara motor ga punya tutup pentil, harus ngeluarin uang tilang Rp. 10.000, setelah itu saya termasuk anti polisi dan tidak mau tahu. saya hanya menghimbau di mana media harus bersikap dengan seimbang. dan Surat Kabar serta Media Online harus bisa jadi “penjaga” citra media yang berimbang di tengah timpangnya pemberitaan televisi.
lihatlah gaya televisi seolah menempatkan skandal century dalam posisi kesalahan mutlak dan bagaimana berteriak uang rakyat 67 T di korupsi, saya tidak mengerti apakah TV itu bodoh atau tidak mau tahu, bahwa uang tersebut adalah premi bank. saya tidak akan membicarakan century, ini hanya contoh saja, di mana menempatkan SMI & B sebagai tersangka versi media tanpa mau tahu urusan tetek bengek pengelolaan keuangan negara di bidang moneter dan fiskal. seorang akdemisi teknokrat murni dengan riwayat luar biasa serta bersih dan televisi menempatkan para wayang orang bermain sandiwara di studio dan seolah masalah bisa selesai dengan berdebat yang dilakukan oleh artis dadakan tanpa latar belakang yang jelas di bidang yang dibicarakan macam bambang s, fchry h atau akbar faisal. dan anehnya media terutama televisi lebih percaya kata-kata anak kemarin sore di DPR tanpa track record di banding penjelasan para teknokrat itu.
di tengah situasi ini masihkah saya bisa berharap media akan berimbang dalam pemberitaan ???
big question…..
dan saya masih berharap Media online dan cetak bisa berlaku lebih bijak dan tidak ikut-ikutan mendajdi Metrovokator bagi masyarakat dan tvoon dalam menyebarluaskan berita, sehingga justru menimbulkan chaos dalam pergolakan politik yang tanpa ujung.
tulisan saya ini saya tutup dengan mengutip kata-kata kakek saya yang telah saya modifikasi :
“indah sekali melihat perang bintang, tetaplah tenang, karena bintang jatuh itu indah, mari kita nikmati saja”
salam kompasiana.
politik.kompasiana.com